tafsir kontemporer dan klasik

Education

Kitab-Kitab Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer

  • Tafsir kontemporer dan Tafsir Klasik
  1. Tafsir Al – Manar

Biografi Rasyid Ridha

Namanya adalah Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Muhammad Syamsuddin bin sayid Bahauddin bin Sayid Manlaa Ali Khalifah al-Baghdadi. Ia senang menyandarkan namanya pada Ahlul Bait, ia menyebut Ali dengan ‘Junduna al-Murtadha alaihis salam’ atau ‘Junduna al-Husain alaihi salam’. ibunya bernama Fatimah, Rasyid Ridha menyebut ibunya ‘Fatimah Ummu Rasyid Hasaniyah al-Abb wa al-Umm. lahir hari Rabu 27 Jumadil Ula 1282 H atau 18 September 1865 M di desa Qalmun di tepi pantai Tharblus syam. Terpengaruh dengan 2 orang: al-Afghani dan Muhammad Abduh dan dengan 1 majalah, al-Urwatul Wutsqa, dan 1 kitab: Ihya Ulumuddin yang membuatnya terpengaruh dengan Tasawuf.

 

Tahun 1314 H pergi ke Mesir ketika wafatnya al-Afghani. Ia meneruskan Tafsir M. Abduh dengan cara yang berbeda, dengan tidak memperluas pembahasan pada mufradat, bahasa dan perselisihan di dalamnya agar bisa memberi solusi kebutuhan manusia. Pada tanggal 6 sya’ban 1315 H ia bersama teman-temannya di Mesir mendirikan majalah yang bernama ‘al-Manar’ melalui majalah ini ia menyebarkan makalah untuk perbaikan masyarakat dan menyerang kebid’ahan dan khurafat yang menyebar di masyarakat dan melalui majalah ini pula Rasyid mengajak untuk berthalabul Ilmi dan meninggalkan sekolah sekuler, karena sekolah ini hanya bertujuan untuk mencetak pegawai saja, dan mengajak umat untuk mendirikan madrasah sendiri.

Pada bulan Rabi’ul Awal 1330 H ia mendirikan Madrasah Da’wah Wal Irsyad yang bertujuan untuk mempersiapkan para da’i dalam waktu 3 tahun untuk dakwah pada umat atau umat lain. Tahun 1352 H ia menulis buku ‘al-Azhar wa al-Manar’ yang merupakan kumpulan kritik dan sarannya kepada Universitas Islam tertua di dunia ini Ia mulai beralih dari Madrasah Aqliyah kepada Manhaj Salaf secara bertahap, dimulai sejak wafatnya M. Abduh. Bukti-bukti berpindahnya ia dari Madrasah Aqliyah kepada Salaf.

  1. Ia menyelisihi metode kedua gurunya yang dulu
  2. Ia menyebarkan dan menerbitkan kitab salaf melalui al-Manar
  3. Ia menulis kitab yang membela Ahlu Sunnah yaitu; As-Sunnah Wa Syiah Au Al-Wahabiyah Wa Rafidhah dan Al-Wahabiyyun Wal Hijaz

wafat pada hari kamis 33 Jumadil Ula 1354 H atau 22 Agustus 1935.

 

 Ulasan Tafsir Al – Manar

 

Kitab tafsir ini juga menjelaskan adanya persesuaiantan antara petunjuk Al quran dengan kebutuhan kaum muslim, baik mereka itu hidup dengan masa kini dalam keadaan terpuruk dan lemah, lantaran kebanyakan mereka telah meninggalkan petunjuk petunjuk tersebut maupun mereka itu hidup pada masa masa yang telah lalu dalam keadaan berdaulat dan jaya, karena mereka selalu berpegang teguh padanya dan hal itu adalah jalan yang menghatarkan kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kitab tafsir ini menjaga agar urain terdapat didalam nya dapat dipahami dengan mudah dan mengindari penggunaan kata – kata yang bercampur baur dengan term- term ilmu pengetahuan dan kesastraan. Karena itu tafsir ini dijadikan petunjuk oleh kalangan awam, tetapi juga tetap dibutuhkan oleh kalangan khusus. Itu la cara yang di tempuh oleh filosof Islam , Guru besar, dan Imam Syekh Muhammad ‘ Abduh dalam memberikan kuliah tafsir.

Berkenaan dengan pendirian Rasyid Ridhatentang masalah – masalah teologi tersebut, Syekh Muhammad Mustahafa al – Maraghi mengeaskan bahwa dasar pemikiran Rasyid Ridha tentang masalah – masalah yang berkaitan dengan akhirat adalah dasar pemikiran ulaama salaf. Sebab ialah adalah seorang Sunni – Salafi ( berpaham salaf ) yang menolak taklid dan menyeru perlunya ijtihad. Bahkan ia sendiri berpendapat ijtihad itu wajib atas dirinya dan atas orang yang mampu melakukannya.

 

Meskipun pada ketiga definisi tidak disebutkan secara langsung bahwa ilmu tauhidatau ilmu kalam adalah ilmu yang biacarakan tuhan , sifat- siifatnya , dan hubungan nya dengan manusia dan alam semesta, tidak berarti pengertiannya berbeda dengan teologi Islam. Sebab , dengan disebutnya Ilmu itu adalah ilmu yang membicarakan akidah – akidah ( kepercayaan – kepercayaan ) Islam, makusdnya tidak lain adalah ilmu yang membicarakan tuhan, sifat- sifat nya dan hubungan nya dengan manusia dan alam semesta yang wajib diimani oleh setiap orang yang mengakui dirinya seorang muslim. Karena itu pabila disebut masalah – masalah teologi islam , maksudnya adalah maslah – masalah yang dibicarakan ilmu kalam dengan demikian , yang dimaksud judul diatas adalah pendapat atau paham Rasyid Ridha tentang masalh – masalah yang diperbincangkan dengan Ilmu kalam sebgaimana didalam tafsir Al Manar.

 

 

  1. Tafsir Sayyid Quthb

 

Bigorafi Sayyid Quthb :

 

Sayyid Quthb adalah seorang ilmuwan, sastrawan, ahli tafsir sekaligus pemikir dari Mesir. Ia banyak menulis dalam berbagai bidang. Ia mempunyai nama lengkap Sayyid Qutb Ibrahim Husain Syadzili. Ia lahir di daerah Asyut, Mesir tahun 1906, di sebuah desa dengan tradisi agama yang kental. Dengan tradisi yang seperti itu,maka tak heran jika Qutb kecil menjadi seorang anak yang pandai dalam ilmu agama. Tak hanya itu, saat usianya masih belia, ia sudah hafal Qur’an. Bakat dan kepandaian menyerap ilmu yang besar itu tak disia-siakan terutama oleh kedua orang tua Qutb. Selama hidupnya selain aktif menulis, ia juga aktif dalam gerakan Islam yang dipimpin oleh Hasan Al-Banna.

Sayyid Quthb dilahirkan pada tanggal 9 Oktober 1906 M. di kota Asyut, salah satu daerah di Mesir. Dia merupakan anak tertua dari lima bersaudara, dua laki-laki dan tiga perempuan. Ayahnya bernama al-Haj Qutb Ibrahim, ia termasuk anggota Partai Nasionalis Musthafa Kamil sekaligus pengelola majalah al-Liwâ`, salah satu majalah yang berkembang pada saat itu. Qutb muda adalah seorang yang sangat pandai. Konon, pada usianya yang relatif muda, dia telah berhasil menghafal al-Qur`an diluar kepala pada umurnya yang ke-10 tahun. Pendidikan dasarnya dia peroleh dari sekolah pemerintah selain yang dia dapatkan dari sekolah Kuttâb (TPA).

Pada tahun 1918 M, dia berhasil menamatkan pendidikan dasarnya. Pada tahun 1921 Sayyid Qutb berangkat ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah. Pada masa mudanya, ia pindah ke Helwan untuk tinggal bersama pamannya, Ahmad Husain Ustman yang merupakan seorang jurnalis. Pada tahun 1925 M, ia masuk ke institusi diklat keguruan, dan lulus tiga tahun kemudian. Lalu ia melanjutkan jenjang perguruannya di Universitas Dâr al-‘Ulûm hingga memporelah gelar sarjana (Lc) dalam bidang sastra sekaligus diploma pendidikan.

Berbekal persedian dan harta yang sangat terbatas, karena memang ia terlahir dalam keluarga sederhana, Qutb di kirim ke Halwan. Sebuah daerah pinggiran ibukota Mesir, Cairo. Kesempatan yang diperolehnya untuk lebih berkembang di luar kota asal tak disia-siakan oleh Qutb. Semangat dan kemampuan belajar yang tinggi ia tunjukkan pada kedua orang tuanya. Sebagai buktinya, ia berhasil masuk pada perguruan tinggi Tajhisziyah Dar al Ulum, sekarang Universitas Cairo. Kala itu, tak sembarang orang bisa meraih pendidikan tinggi di tanah Mesir, dan Qutb beruntung menjadi salah satunya. Tentunya dengan kerja keras dan belajar. Tahun 1933 Qutb dapat menyabet gelar sarjana pendidikan.

Sepanjang hayatnya, Sayyid Qutb telah menghasilkan lebih dari dua puluh buah karya dalam berbagai bidang. Penulisan buku-bukunya juga sangat berhubungan erat dengan perjalanan hidupnya. Sebagai contoh, pada era sebelum tahun 1940-an, beliau banyak menulis buku-buku sastra yang hampa akan unsur-unsur agama. Hal ini terlihat pada karyanya yang berjudul “Muhimmat al-Syi’r fi al-Hayâh” pada tahun 1933 dan “Naqd Mustaqbal al-Tsaqâfah fî Misr” pada tahun 1939.

Pada tahun 1940-an, Sayyid Qutb mulai menerapkan unsur-unsur agama di dalam karyanya. Hal itu terlihat pada karya beliau selanjutnya yang berjudul “al-Tashwîr al-Fanni fi al-Qur`an” (1945) dan “Masyâhid al-Qiyâmah fi al-Qur`an”

 

Ulasan Tafsir Sayyid Quthub

Kata – kata yang digunakan oleh ustdaz Sayyid Quthb begitu Indah dan menyentuh hati sehingga menyemangati saya untuk berislam serta memprerjuangkannya. Sungguh merupkan buku tafsri yang wajib dibaca oleh setiap muslim agar hiudpnya menemukan arah sebagaimana allah tunjukkan. ( Prof.K.H. Alie Yafie).

Kelebihan buku tafsir ini adlah mengagabungkan antara tafsir bi’rayi dan tafsir bil’ ma’tsur. Kombinasi yang menjadikan buku tafsir ini. Memeiliki hujjah yang kuat. Selain itu bahsanya yang indah. Begitu menyentuh hati dan menggelorakan semangat jiwa untuk mengamalkan ajaran – ajaran Islam sekaligus memeprjuangkannya. ( Dr.K.H.Didin Hafidhuddin)

Tafsir Fi zhalali quran ada lah kita tafsir yang Istimewa, pertama ia ditulis pada masa kini bukan masa sekian pada abad lalu sehingga ia mempersentasekan pandanganseorang mukmin ats dunia kita yangbberada dalam era Godless civilization. Kedua, ia ditulis dari balik teralibesi penjara oleh seorang ulama menjauhi- dakwah yang istiqamahsepanjang haytanya membelakalimat tauhid sampe syahid ditiang gantungan penguasa zali. Ketiga, kandungannya memadukan keterangan kaidah, fikrah dan manhaj Islamdengan tampilan bahasa sastra yang indah dan menyentuuh. Maha suci yang maha tinggi.

  1. Kemudahan dari Allah (Tafsir Ibnu katsir )

 

Bigorafi Ibnu Katsir

Namanya adalah Imaduddin Abul Fida Ismail bin al-Khatib Abu Hafs Umar bin Katsir asy-Syafi’i al-Quraisyi ad-Dimasyqi, tetapi lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Ia lahir di Basrah, Suriah pada sekitar tahun 1300 M atau 700 H. Saat masih kecil ayahnya meninggal sehingga ia diasuh oleh pamannya dan dibawa ke Damaskus. Di kota inilah ia tumbuh besar dan banyak menimba berbagai ilmu agama dari para ulama terkenal. Ia belajar al-Quran, tafsir, hadits, fiqh, dan sebagainya.

 

Ibnu Katsir belajar ilmu fiqh pada Burhanuddin al-Fazari, seorang ulama terkemuka dalam madzhab Syafi’i. Sedangkan ilmu hadits ia pelajari dari ulama-ulama lain, diantaranya al-Wani, yang mengakui kehebatan Ibnu Katsir dengan memberinya ijazah di bidang ilmu hadits. Ia juga memperdalam ilmu hadits pada Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, yang kemudian menjadi mertuanya. Tokoh lain yang menjadi guru dan juga mempengaruhi pola pikirnya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang sangat terkenal sampai saat ini.

 

Nama Ibnu Katsir mulai terkenal di tengah publik saat ia menjadi anggota tim dalam kasus seorang ulama sufi yang dituduh menganut paham reinkarnasi. Hasil dari penyelidikan tim ini merekomendasikan kepada pemerintah untuk menjatuhkan hukuman mati kepada ulama sufi tersebut.

 

Ibnu Katsir kemudian diberi kepercayaan untuk menjadi khatib pada masjid di kota Mizza yang didirikan oleh amir Bahauddin al-Marjadi. Ia juga dipercaya untuk mengajar mata kuliah hadits dan ilmu hadits menggantikan posisi adz-Dzahabi yang meninggal dunia. Selanjutnya ia diangkat menjadi rektor Darul Hadits al-Asyrafiyah menggantikan Taqiuddin as-Subki yang wafat pada tahun 756 H. Akhirnya oleh gubernur Mankli Bugha ia dianugerahi sebagai guru besar di masjid negara.

 

Ulasan Tafsir Ibnu Katsir

Allah mendorong hamba – hambanya supaya memahami quran , Dia berfimran “ Maka apakah mereka tidak merenungkan Al – quran ? kalau kianya Al – quran itu bukan dari sisi Allah , tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalam nya. ( an- nisa 82 )

 

Metode penafsiran yang paling shahih adalah penafsiran al – quran dengan Al – qura’an. Ayat yang di majmualkan pada suatu tempat akan dibeberkan kan ketempat lain, apabila metode itu tidak dapat anda lakukan, maka tafsirkanlah dengan As- Sunnahkarena ia merupakanbagi Al – Qur’an. Asya-fi r.a berkata s” semua perkara ditetapkan oleh Rasullah, merupakan apa yang ditetapkan oleh al quran .

 

Cara – cara  penafsiran

Ibnu jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari ibnu Abbas dia berkata “ penafsiran itu ada empat segi :

  • Penafsiran yang duikais tau oleh bangsa arab melalui tuturannya
  • Penafsiran yang tidak dapat dilakukan oleh seseorang Karena ketyidak tahuannya\
  • Penafsiran yang diketahui para ulama
  • Penafsiran yang tidak diketahui oleh seorang pun kecuali Allah

 

Ibnu Abbas , qatadah, dan Abu al – liyah menatakan bahwa surat al fatihah turun di mekkah. Pendapat lain bahwa ia diturunkan oleh dua kali. Diantara manfaat ta’wudz adalahuntuk menyucikan mulut dari perkataan sia – sia dan buruk yang bisa dilakukannya dan untuk mengahrumkannya. Ta’wudz berarti meminta perlindungan kepada allah dan sebagai pengakuannya atas kekuasaanya , kelemahan hamba , dan ketidak berdayaanya.

 

Didalam tafsir ini dari surah al fatihah ayat pertama sampai ayat terkahir ditafsirkan secara lengkap.

 

  1. Tafsir Al Qu’an di Indoneisa ( Tafsir Jalalain)

 

Biografi Jalalain

Nama lengkap beliau adalah Al-Imam Jalaluddin Abu Abdillah Muhammad bin Syihabuddin Ahmad bin Kamaluddin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad bin Hasyim Al-`Abbasi Al-Anshari Al-Mahalli Al-Qahiri Asy-Syafi`i. Beliau lahir di Kairo, Mesir, tahun 791H/1389 M. Beliau dikenal dengan julukan Jalaluddin yang berarti orang yang mempunyai keagungan dalam masalah agama. Sedangkan sebutan Al-Mahalli dinisbahkan pada ampong kelahirannya, Mahalla Al-Kubra, sebuah daerah yang terletak di sebelah barat Kairo, tidak jauh dari Sungai Nil.

 

Semenjak kecil tanda-tanda kecerdasan sudah menonjol pada diri al-Mahalli. Beliau menguasai berbagai disiplin ilmu agama, antara lain tauhid, tafsir, fiqih, ushul fiqh, nahwu, sharaf dan mantiq. Pada masanya beliau merupakan seorang ‘allamah terkemuka, terkenal pandai dalam pemahaman masalah-masalah agama, sehingga sebagian orang menyebutnya seorang yang memiliki pemahaman yang brillian melebihi kecemerlangan berlian. Dalam kitab Mu’jam Al-Mufassirin, As-Sakhawi menuturkan bahwa Al-Mahalli adalah “sosok imam yang sangat pandai dan berfikiran jernih, bahkan kecerdasannya di atas rata-rata”. Meskipun begitu beliau pernah mengatakan bahwa sebetulnya dirinya tidak mampu banyak menghafal, mungkin karena hal ini tampaknya kemudian menjadi motivasi beliau untuk terus belajar dan berjuang mengarungi lautan ilmu.

 

Beliau juga dikenal sebagai seorang ulama yang berkepribadian mulia, saleh dan wara’. Beliau adalah sosok yang sederhana, jauh dari gemerlap dunia. Bahkan pernah ditawarkan kepadanya jabatan sebagai Qadi terbesar di negerinya, namun beliau menolaknya. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa meskipun tidak miskin, beliau hidup pas-pasan. Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, beliau bekerja sebagai pedagang. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengendurkan tekadnya untuk terus mengais ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *